echopediaboy tips dan trik blogspot

Selasa, 06 November 2012

Akankah Obama Unggul Dalam Pemilihan Presiden USA 2012 ?


Pemilihan Presiden Amerika Serikat tinggal hitungan hari. Persaingan antara kandidat dari Partai Demokrat yang juga presiden AS saat ini, Barack Obama dan pesaingnya dari Partai Republik, Mitt Romney semakin ketat, walau menurut salah satu sumber berita Obama sedikit lebih unggul di beberapa negara bagian yang diperebutkan untuk memperoleh 270 suara elektoral (electoral vote) untuk menang.

Kedua kandidat telah menyelesaikan tiga putaran debat yang membahas isu-isu seperti ekonomi dan politik luar negeri. Menarik membandingkan kebijakan dan pandangan kedua kandidat terhadap beberapa isu penting dunia dan kemajuan ekonomi AS. Apakah Obama sudah berhasil mengurangi angka pengangguran? Bagaimana kedua kandidat melihat permasalahan Palestina? Mengapa beberapa isu penting luput dari pembahasan saat debat?
“dari segi masalah ekonomi, Obama sudah berusaha keras untuk mengurangi angka pengangguran, tetapi roda perekonomian memang berjalan lamban. Mengenai defisit anggaran, agak susah diatasi karena Obama melihat pemerintah harus mengeluarkan dana untuk pendidikan dan kesehatan. Menurut Obama dana itu penting karena masyarakat memerlukan pendidikan dan keterampilan agar bisa bekerja. Sementara Romney menginginkan dana untuk kesehatan dan pendidikan dipotong untuk mengatasi defisit,” ujar Dr.Doddy W.Syahbuddin, dosen Politik Luar Negeri AS di Universitas Nasional dan Universitas Indonesia.
Debat putaran terakhir adalah debat yang paling menarik perhatian karena membahas mengenai kebijakan politik luar negeri (22/10). Beberapa media menyoroti betapa kedua kandidat luput membahas solusi bagi konflik Israel-Palestina. Bahkan moderator debat Bob Schaffer yang juga wartawan senior dianggap cenderung memberi pertanyaan yang beraroma ‘sayap kanan’ alias pro perang.
Doddy mengatakan Romney sempat melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa orang Israel lebih beradab dari orang Palestina dan Amerika Serikat harus mengebom Suriah. Obama ingin mengurangi anggaran untuk perang karena biaya untuk mengobati tentara-tentara yang terluka karena perang juga lebih besar. Sementara menurut Doddy, kebijakan Romney cenderung pro perang.
Pendapat serupa juga dikemukakan Harun Umar, dosen Politik Luar Negeri di Universitas Nasional. “Rakyat Amerika Serikat sudah lelah dengan perang. Jangan lupa juga bahwa krisis ekonomi Amerika Serikat juga merupakan dampak dari kebijakan pro perang pendahulunya (George W.Bush) yang menggunakan anggaran untuk mengirim tentara ke Afghanistan dan Irak”, ujar Harun. Ia juga mengatakan bahwa Romney sendiri tidak banyak mengetahui isu-isu dunia dan cenderung mengiyakan pendapat Obama menyangkut beberapa isu.
Mengenai isu Suriah, Doddy mengatakan terlalu riskan bagi Amerika Serikat untuk melakukan intervensi militer dengan mengatasnamakan kemanusiaan. Obama tidak ingin terlibat langsung tetapi juga tidak ingin diam saja. Karena itu, Amerika Serikat memilih lewat ‘jalur belakang’ dengan memberi bantuan bagi oposisi Suriah.

Harun mengatakan bahwa Amerika Serikat lebih memilih membiarkan Suriah karena cepat atau lambat rezim Bashar al-Assad kemungkinan besar akan turun dengan sendirinya lewat kekuatan rakyat (people’s power). “Terlalu riskan bagi Amerika Serikat untuk campur tangan karena ada kepentingan negara-negara lain seperti Iran, Cina, Rusia. Kelompok oposisi di Suriah sendiri tidak padu dalam menentang rezim Assad”, tutur dosen yang pensiun dini dari Kementerian Urusan Pemberdayaan Wanita (UPW) itu.

Turki dan Iran juga terlibat dalam tarik menarik kepentingan di Suriah. Menurut Amir Taheri dalam artikelnya yang berjudul ‘Suriah: Turki dan Iran’ di New York Post (26/8), Turki menginginkan Assad mundur dan membentuk pemerintahan sementara, sementara ide itu ditentang keras oleh Iran, yang menganggap bahwa Suriah bukan sekedar sekutu, tetapi lebih sebagai klien.
Mengenai pengembangan teknologi nuklir Iran, patut dipertanyakan mengapa Amerika Serikat cenderung mempersoalkan Iran yang mengembangkan nuklir untuk tujuan energi sementara mereka tidak mempermasalahkan teknologi nuklir Israel. Akankah AS menyerang Iran demi membela sekutu abadinya, Israel?
Kemungkinan AS menyerang Iran tampaknya kecil, mengingat pemerintah AS saat ini lebih fokus untuk memulihkan perekonomian negara.
Salah satu isu yang luput dari pembahasan di debat pilpres adalah tentang perubahan iklim. “Obama sempat menyinggung sedikit mengenai perubahan iklim ini, yaitu tentang kebijakan energi yang lebih bersih. Tetapi memang saat ini dengan krisis ekonomi yang tengah membelit, pemerintah AS tidak terlalu fokus dengan masalah perubahan iklim. Justru yang mengingatkan adalah walikota New York, Michael Bloomberg. Ia mengatakan bahwa super storm Sandy ini akibat dari perubahan iklim”, ujar Doddy.

Siapapun yang menang, apa dampaknya bagi Indonesia? Doddy mengatakan hasil pemilihan presiden AS tidak membawa pengaruh apa-apa bagi Indonesia karena bagi AS Indonesia sebenarnya bukan prioritas utama. Dosen senior ini menyoroti ‘anehnya’ politik bebas dan aktif yang selama ini dibanggakan Indonesia.
“Bebas dan aktif akhirnya membuat Indonesia tidak ada jaringan. Terlebih Indonesia tidak pandai berdiplomasi memperjuangkan kepentingan nasional. AS sudah mendapat segalanya dari kita, itu patut diketahui. Salah satu contohnya adalah ketidakmampuan Indonesia memperjuangkan kepentingan nasional menyangkut kontrak karya Freeport. Kesalahan itu sudah dari awal, berani tidak pemerintah Indonesia mengubah itu?’, ujar Doddy.
Lalu, siapa yang akan menang tanggal 6 November nanti? Kedua dosen tersebut memprediksikan Obama akan kembali memenangkan pemilihan presiden AS tahun ini. Namun patut diperhitungkan juga faktor negara bagian yang masih bisa berubah (swing states) yang dapat menentukan hasil akhir pemilihan.
Salah satu negara bagian yang memegang peranan penting adalah Ohio. Negara bagian ini mempunyai tradisi sejarah memilih calon presiden yang menang sejak tahun 1960 (BBC). Survey terakhir mengatakan Obama unggul 6 poin dengan perolehan suara 51 persen sementara Romney mendapat suara 45 persen.
Negara bagian Florida juga dinilai sebagai penentu kemenangan di pilpres tahun ini. Tentunya kita masih ingat saat Geroge W.Bush menang di pemilihan presiden tahun 2000 atas Al Gore, kemenangan Bush ditentukan di Florida.

Apa yang bisa dipelajari dari pilpres AS? Alfian Muthalib, dosen Unas yang pernah mendapat beasiswa di negara tersebut mengatakan, ”Kedua kandidat bisa saja berbeda pandangan dalam politik, tetapi politik AS berhasil menghasilkan kandidat presiden yang berkualitas dan mempunyai visi misi untuk kemajuan AS. Ironis memang karena pilpres di Indonesia menghasilkan pemimpin yang cenderung korup dan memperkaya diri sendiri. Akhirnya pilpres di Indonesia tidak membawa pengaruh positif bagi masyarakat”.
Nah, apakah Obama berhasil terpilih sebagai presiden AS untuk kedua kalinya? Atau justru Romney yang akan memenangkan pilpres tahun ini ? Kita tunggu saja nanti.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar sobat dan dapatkan backlink satu arah langsung ke blog sobat dengan widget top komentator yang saya pasang di sidebar blog ini. Caranya dengan menjadi pemberi komentar terbanyak di blog ini, tapi mohon jangan Nyepam ya..! Komentar dengan menyertakan LINK / ANCHOR TEXT atau promosi produk tertentu akan saya hapus karena blog ini bukan tempat untuk mempromosikan produk yang dijual di blog anda.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops